Selasa, 17 Januari 2012

Profil FC.BBR


Persatuan Sepak Bola (PS) BBR adalah sebuah klub sepak bola yang dimiliki oleh Pemuda Babuai Balai Gurah. Klub sepak bola ini bermarkas di Desa Babuai, Jorong Balai Gurah, Nagari Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kesebelasan yang bermarkas di Lapangan Hijau Balai Gurah, BBR ini berdiri  sekitaran tahun 1994. 

Sejarah Persatuan Sepakbola BBR atau lebih dikenal dengan sebutan Babuai Raya, adalah sebuah klub sepakbola profesional yang berkedudukan di  Desa Babuai, Jorong Balai Gurah, Nagari Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat . Dalam proses pembentukan kesebelasan sangatlah patut untuk di acungkan jempol, karena awal pembentukan tim ini para pemuda babuai mencari dana untuk kesebelasan ini dengan keringat. Mereka mencari dana tersebut dengan kerja upahan, setiap hasil yang mereka dapat selalu di niatkan untuk pembentukan kesebelasan. Setelah hasil dari jerih payah mereka mencukupi, maka mulailah dengan pembelian sepatu, bola, dan 2 jenis  kostum dengan bertitelkan BBR.
Mungkin BBR adalah sebuah Klub kecil di mata orang, tapi bagiku BBR adalah sebuah tim yang besar yang dapat menghasilkan bibit - bibit pemain yang handal.

Berkat doa dan partisipasi dari seluruh warga Balai Gurah pad umumnya dan warga Babuai khususnya,, Akhirnya Persatuan Sepak Bola BBR kembali bangkit setelah tidur panjangnya...
Semoga BBR akan terus bangkit dan kembali menorehkan prestasi, serta menghasilkan bibit - bibit pemain sepak bola yang berbakat.

Marilah kita jadikan Persatuan Sepak Bola BBR sebagai team yang bisa membuat rindu para pendiri dan Senior (Khususnya Perantau) untuk pulang kampung dan menyaksikan semangat para penerus yang masih dalam tahap pembentukan team BBR yang baru.

                        "BBR CLUB KEBANGGAAN KITO BASAMO"


Asal Mula dan Sejarah Sepakbola

Dulunya, sejarah sepakbola bisa dikatakan unik sekaligus menakutkan, sebab ketika belum ada peraturan FIFA, sebakbola menjadi olahraga yang anarkis. Para pemainnya bahkan saling menyerang dengan tidak terkendali. Ahlasil meskipun sama-sama dilakukan dengan memasukkan bola ke jaring/gawang tapi karena penuh dengan kekerasan, di Inggris permainan ini sempat dilarang dalam jangka waktu yang lama. Dan hal tersebut tak lain karena anarkisme para pemainnya. Untuk waktu tepatnyasejarah sepakbola ini bermula, sebenarnya cukup sulit dipastikan.
Berdasarkan beberapa sumber, disebutkan bahwa sejarah sepakbola bermula ketika masyarakat Cina melakukan permainan dengan menggiring bola kemudian menggiringnya ke dalam jaring. Permainan tersebut dimulai pada Dinasti Han pada sekitar abad ke-2 dan ke-3. Permainan ini juga dilakukan di Jepang, di negeri sakura ini permainan menggiring bola disebut dengan Kemari. Dengan begitu sebenarnya bisa disimpulkan jika cikal bakal permainan sepakbola dimulai dari Asia. Hanya saja dalam perjalanannya, pada akhirnya Eropa lah yang lebih dulu membuat sepakbola menjadi olahraga modern dengan membenahi beberapa peraturannya. Tapi sebenarnya kalau dirunut sepakbola di Eropa baru dimulai pada abad ke-16, di mana kala itu dimainkan di Italia dan itu artinya dalam sejarah sepakbola, China dan Jepang lah pionirnya.

Arti Lambang Minangkabau -Tuah Sakato




Tuah Sakato : Lambang Masyarakat Nan Sakato.

"Saciok bak Ayam Sadanciang bak Basi."

Bola-Bulan Bintang : Lambang Tauhid Islam.

“Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah Alquran.”

Tanduk Kerbau : Lambang Kearifan, Kecerdikan, Ketekunan dan Keuletan.

“Alun takilek lah takalam, Hiduik baraka, Baukue jo bajangko.”

Payung Panji : Lambang Kemuliaan, Keamanan, dan Kesejahteraan Masyarakat.

“Bumi Sanang Padi Manjadi, Padi masak Jagung maupie, Anak Buah sanang santosa, Taranak bakambang biak, Bapak kayo Mandeh batuah, Mamak disambah urang pulo.”


Keris dan Pedang : Lambang kesatuan Hukum Adat dan Hukum Islam untuk menjamin ketertiban masyarakat.

Tombak : Lambang Ketahanan Masyarakat.

“Kampuang nan bapaga buek Nagari bapaga Undang Tagak basuku - mamaga suku Tagak bakampuang - mamaga kampuang Tagak ba nagari - mamaga nagari Marawa.


Lambang Wilayah Adat Luhak nan Tigo

Warna Kuning Lambang Luhak Tanah Datar

Warna Merah Lambang Luhak Agam

Warna Hitam Lambang Luhak 50 Kota

Pemasangan Merawa : Warna Hitam menyatu dengan tiang, Warna Merah ditengah, Warna Kuning dibagian luar.

Rabu, 11 Januari 2012

Nasehat Untuk Remaja Muslim

Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).
Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.
Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Selasa, 10 Januari 2012

FC BBR Kembali Bangkit

 
Berkat doa dan partisipasi dari seluruh warga Balaigurah Pada umumnya dan Babuai khususnya,,, Akhirnya Persatuan Sepak Bola BBR kembali bangkit setelah tidur panjangnya..

Dengan Struktur :
Penanggung Jawab   : Wali Nagari Balai Gurah
Penasehat                  : Aswad
Pelatih                       : Femi Marza
Ketua 1                      : Edo Wakmen
Ketua 2                      : Rahmad Hidayat

Semoga BBR akan terus bangkit, dan kembali menorehkan prestasi, serta menghasilkan bibit - bibit pemain sepak bola yang berbakat.

Contact Person :
1. Edo ( 081388254608 )
2. Aji ( 085375750532 )

Senin, 09 Januari 2012

ADAT ISTIADAT MINANGKABAU

Sebelum kedatangan bangsa-bangsa Barat di kawasan Nusantara ini, adat adalah satu-satunya sistem yang mengatur masyarakat dan pemerintahan, terutama di kerajaan-kerajaan Melayu, mulai dari Aceh, Riau, Malaka, Jawa, Banjar, Bugis, hingga Ambon dan Ternate. Agama Islam pada umumnya terintagrasi dengan adat-adat yang dipakai di kerajaan-kerajaan tersebut.
Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat pada suku-suku lain, tetapi dengan beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilinial, sejak kedatangannya di wilayah Minangkabau sekarang ini. Bold text Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat.
Pada tataran konseptional, adat Minang terbagi pada empat kategori:
  1. Adat nan sabana adat
  2. Adat nan teradat
  3. Adat nan diadatkan
  4. Adat istiadat
Adat mengatur interaksi dan hubungan antar sesama anggota masyarakat Minangkabau, baik dalam hubungan yang formal maupun yang tidak formal, sesuai dengan pepatah, bahwa sejak semula ada tiga adat nan tajoli:
Partamo sambah manyambah,kaduo siriah jo pinang,katigo baso jo basi.Banamo adat sopan santun.
Tajoli dari kata 'joli', sejoli=sepasang, (joli=kereta tandu, teman sejoli berarti teman satu kereta tandu sehingga sangat akrab) satu set. Jadi ketiga bagian adat di atas adalah satu set yang berjalan seiring, diprektekkan dalam kehidupan sehari-hari orang Minang, baik orang biasa maupun para penghulu dan cerdik pandainya.
Secara legalistik atau kelembagaan, adat Minang dapat dirangkum dalam Limbago nan Sapuluah, yaitu:
  1. Cupak nan duo
  2. Kato nan ampek
  3. Undang nan ampek
Cupak nan Duo ialah Cupak Usali dan Cupak Buatan Kato nan Ampek ialah:
  1. Kato Pusako
  2. Kato Mupakat
  3. Kato Dahulu Batapati
  4. Kato Kudian Kato Bacari
Undang nan Ampek ialah:
  1. Undang-undang Luhak dan Rantau
  2. Undang-undang Nagari
  3. Undang-undang Dalam Nagari
  4. Undang-undang nan Duopuluah
EMPAT JENIS ADAT DI MINANGKABAU
Adat Minang mencakup suatu spektrum dari yang paling umum hingga yang paling khusus, dari yang paling permanen dan tetap hingga yang paling mercurial dan sering berubah-ubah, bahkan ad-hoc. Di sini adat Minang disebut Adat nan Ampek.
1). Adat nan Sabana Adat, adat yang paling stabil dan umum, dan sebenarnya berlaku bukan hanya di Minangkabau saja, melainkan di seluruh alam semesta ini. Disepakati bahwa adat yang sebenarnya adat adalah Hukum Alam atau Sunnatullah, dan Hukum Allah yang tertuang di dalam ajaran Islam. Dengan mengambil Alam takambang menjadi guru adat Minang dapat menjamin kompatibilitasnya untuk segala zaman dan dengan demikian menjaga kelangsungannya di hadapan budaya asing yang melanda. Masuknya agama Islam ke Minangkabau, juga telah melengkapi Adat Minang itu menjadi kesatuan yang mencakup unsur duniawi dan unsurtransedental.
2)adat nan teradat
3) Adat nan Diadatkan. Adat Minang menjadi adat Minang adalah karena suatu identitas dengan kesatuan etnis dan wilayah : adat Minang adalah adat yang diadatkan oleh Orang Minang, di Minangkabau. Jadi adat Minang itu sama di seluruh Minangkabau, dan setiap orang Minang be dan leluasa membuat penyesuaian-penyesuaian, maka adat itu akan bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan sense of order. Tidak ada unsur paksaan yang akan terasa jika adat itu monolitik dan seragam di seluruh wilayah.
4). Adat Istiadat. Ialah adat yang terjadi dengan sendirinya karena interaksi antar anggota masyarakat dan antar anggota masyarakat dengan dunia luar. Dinamakan juga adat sepanjang jalan yang datang dan pergi, dan ditolerir selama tidak melanggar adat yang tiga di atas. Pengakuan akan adanya adat-sitiadat ini menjadikan adat Minang lebih komplit dan memberi ruang bagi anggota masyarakat untuk bereksperimen dengan hal-hal baru dan memperkaya budayanya.
Empat macam adat diatas adalah adat Minang semuanya dan menjadi suatu kesatuan yang utuh. Keempatnya tidak dapat dipisahkan, dan tidak dapat dikatakan adat Minang kalau kurang salah satu: Bukanlah adat Minang jika hanya terfokus pada adat istiadat akan tetapi melawan Hukum Alam. Dan buknlah pula adat Minang jika hanya berbicara tentang pengangkatan Penghulu, tetapi tidak memberi ruang untuk berlakunya adat istiadat yang dipakai oleh orang kebanyakan.
== Implementasi Adat Minangkabau == Dikatakan dalam pepatah adat: Partamo sambah manyambah, kaduo siriah jo pinang, katigo baso jo basi. Banamo adat sopan santun.
Rangkaian kata-kata pusako ini menyatakan bahwa adat Minangkabau secara sederhana dapat disimpulkan perwujudannya menjadi tiga hal:
1). Pasambahan.
Adat Minang sarat dengan formalitas dan interaksi yang dikemas sedemikian rupa sehingga acara puncaknya tidak sah, tidak valid, jika belum disampaikan dengan bahasa formal yang disebut pasambahan. Acara-acara adat, mulai dari yang simple seperti mamanggia, yaitu menyampaikan undangan untuk menghadiri suatu acara, hingga yang sakral dan diagungkan sebagai acara kebesaran adat, seperti "Batagak Gala", yaitu pengangkatan seseorang menjadi Pangulu, selalu dilaksanakan dengan sambah-manyambah.
Sambah-manyambah di sini tidak ada hubungannya dengan menyembah Tuhan, dan orang Minang tidak menyembah penghulu atau orang-orang terhormat dalam kaumnya. Melainkan yang dimaksud adalahpasambahan kato. Artinya pihak-pihak yang berbicara atau berdialog mempersembakan kata-katanya dengan penuh hormat, dan dijawab dengan cara yang penuh hormat pula. Untuk itu digunakan suatu varian Bahasa Minang tertentu, yang mempunyai format baku.
Format bahasa pasambahan ini penuh dengan kata-kata klasik, pepatah-petitih dan dapat pula dihiasi pula dengan pantun-pantun. Bahasa pasambahan ini dapat berbeda dalam variasi dan penggunaan kata-katanya. Namun secara umum dapat dikatakan ada suatu format yang standar bagi seluruh Minangkabau.
Dalam pelaksanaan pasambahan, dalam adat Minang digariskan penentuan peran masing-masing pihak dalam setiap pembicaraan, pihak-pihak yang berbicara ditentukan kedudukannya secara formal, misalnya sebagai tuan rumah yang disebut "si Pangka", sebagai tamu yang disebut "si Alek", sebagai pemohon (yang mengajukan maksud dan tujuan perayaan}, atau sebagai yang menerima permohonan (pihak kebesaran adat yang memiliki kewenangan dalam legalitas perayaan alek/perhelatan).
2). Sirih dan pinang
Sirih dan pinang adalah lambang fromalitas dalam interaksi komunikasi adat masyarakat Minangkabau. Setiap acara penting dimulai dengan menghadirkan sirih dan kelengkepannya seperti buah pinang, gambir, kapur dari kulit kerang. Biasanya ditaruh diatas carano yang diedarkan kepada hadirin. Siriah dan pinang dalam situasi tertentu diganti dengan menawarkan rokok.
Makna sirih adalah secara simbolik, sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan mengadakan suatu pembicaran. Suatu pemberian dapat juga berupa barang berharga, meskipun nilai simbolik suatu pemberian tetap lebih utama daripada nilai intrinsiknya. Dalam pepatah adat disebutkan, siriah nan diateh, ameh nan dibawah. Dengan sirih suatu acara sudah menjadi acara adat meskipun tidak atau belum disertai dengan pasambahankato.
Sirih dan pinang juga mempunyai makna pemberitahuan, adat yang lahiriah, baik pemberitahuan yang ditujukan pada orang tertentu atau pada khalayak ramai. Karena itu, helat perkawinan termasuk dalam bab ini.

ASAL DARI NAGARI PARIANGAN.
Menurut curaian orang tua-tua : yang dinamakan Balai Gurah yaitu dari Silungkang Mudiak ( Batas Biaro dengan Balai Gurah ) , dari Banda Tunggang atau Batu Babandua Hilia ( Batas Balai Gurah dengan Lasi ), sehingga itulah yang dinamakan Balai Gurah, tetapi ke-hujung dan ke-puhunnya tidak tersebut batasnya.
Adapun orang Balai Gurah, Koto Tuo dan Sitapung sekebat Erat, segenggam teguh dan negerinya berdekatan.
Kalau di Koto Tuo penghulunya menjadi 24 Hindu, suku adatnya 6 dan di Sitapung penghulunya menjadi 26 Hindu suku adatnya 7.
Dari penghulu nan Bahindu dipilih penghulu nan Basuku yaitu dalam satu suku adat menjadi satu penghulu nan basuku ialah di Balai Gurah 6 di Koto Tuo 6 ( sekarang tidak ada lagi ) dan di Sitapung 7.
Tiap-tiap penghulu itu adalah penghulu berbuah perut dan tiap-tiap suku adat adalah penghulu nan Basuku ( Pucuk ), tetapi adatnya sama juga dengan penghulu nan Bahindu.
Tentangan dari penghulu nan berbuah perut gadangnya dengan 1 ekor kerbau 100 sukat beras juga.
Kalau dianya menerima adat dapat dari penghulu Hindunya satu-satu.
Jadi kini karena peraturan akan dirubah tentangan Negari Balai gurah, Koto Tuo dan Sitapung, patut benar disatukan negari itu, 1 berdekatan anak buahnya sedikit, jadi penghulu kepalanya dipilih satu dinamakan Penghulu Kepala Balai Gurah.
Hanya itu yang baru dapat saya jelaskan...Terlebih terkurang penulis minta maaf